Dampak Penjajahan Belanda di Indonesia dalam Bidang Sentimen Rasial
Dengan sengaja Pemerintah Belanda membeda-bedakan golongan berdasarkan ras. Kebijakan itu semakin tegas seik awal buruk ke-19 yang mana pemerintahan Hindia-Belanda membagi penduduk menjadi tiga golongan,yakni:
A. Golongan Eropa sebagai golongan pertama atau yang tertinggi.
B. Golongan Timur Asing yang terdiri dari Cina, Arab, India dan negara lainnya sebagai kelas kedua.
C. Golongan Pribumi sebagai kelas ketiga atau golongan terendah.
Hal tersebut mencoba menimbulkan perasaan rasial di kalangan pribumi. Pembagian golongan ini mengemu disuatu gerakan untuk melawan kebijakan rasial tersebut.
Pada tanggal 13 Juli 1919 orang orang Indo (campuran EropaPribumi) atas prakarsa Karel Zaalberg membentuk Indo Europe Verbond (IEV). IEV sendiri adalah golongan yang ingin menuntut hidup mereka dipermudah dan melawan sikap rasis dari orang-orang Belanda , karena bisa dibilang hanya separuh beruntung mereka terkadang tidak diterima orang-orang di kalangan pribumi dan Ditolak olehkalangan Belanda. Namun pada kenyataannya merekalah yang rasis kepada pribumi. Mereka berasumsi orang pribumi berpendapatan yang disebut sebagai inlander. Inlander sendiri adalah ungkapan kasar dan rendahan bagi orang-orang pribumi dan disamakan dengan bodoh dan udik . Berbeda dengan orang pribumi, sekalipun golongan Cina diperlakukan rasial kering, mereka lebih makmur dibandingkan pribumi di bawah kekuasaan kolonial. Penyebabnya adalah falek masa hak-hak VOC milik mereka yang dilindungi kering hukum Barat karena orang Cina dapat dimanfaatkan dalam posisi perekonomian misalnya demikian pulamenjadipedagangperantaradanpengawasantarakoloni dengan pribumi. Jangan sampai kita melestarikan warisan memberi perasaanrasial itu.
Gerakan Perlawanan atas Kebijakan Rasial
Pada 13 Juli 1919, orang-orang Indo (campuran atau blasteran Eropa-Pribumi) atas prakarsa Karel Zaalberg membentu Indo Europe Verbond (IEV). IEV merupakan golongan yang ingin menuntut kemudahan atas hidup mereka dan melawan rasisme dari orang-orang Belanda totok (berdarah murni).
Orang-orang Indo juga bisa dibilang hanya separuh beruntung karena kadang mereka enggak diterima di kalangan masyarakat Pribumi dan juga ditolak jika ingin bergabung dengan kalangan Belanda totok. Meski begitu, realitanya orang-orang Indo jugalah yang menunjukkan sikap rasis pada orang pribumi. Mereka menganggap bahwa orang pribumi rendah dan pantas disebut inlander. Inlander adalah ungkapan kasar yang merendahkan orang-orang pribumi yang bisa disamakan dengan menyebut seseorang dengan bodoh atau udik (kampungan) antara sesamanya.
Persoalan pembauran tidak dapat optimal tanpa adanya perubahan sistematik menyangkut persoalan struktural ekonomi. Selama berabad-abad permasalahan struktural itu menimbulkan menyuburkan sentimen rasial terhadap golongan Tionghoa dan menjadi dasar pola interaksi antar golongan secara turun-temurun.
Untuk itu, restrukturisasi penguasaan sumber-sumber ekonomi yang adil perlu dilakukan, mulai dari reforma agraria, prioritas akses kredit bagi berbagai profesi rakyat kecil, penataan perdagangan dan industri yang berkeadilan, pemerataan akses pendidikan berkualitas untuk melakukan lompatan strategi industrialiasi, hingga pelaksanaan sistem jaminan sosial yang tepat sasaran. Peninjauan ulang kontrak juga dijalankan di sektor pertambangan yang banyak merugikan negara dan memarjinalkan masyarakat setempat. Konglomerasi, dari golongan manapun, sudah seharusnya dibatasi dan tidak memasuki wilayah ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Mengingat di Indonesia tidak terdapat kecenderungan rasisme, menyangkut masalah ”kodrat” yang menganggap ras lain jelek atau buruk, dengan penuntasan segala peraturan dan pelaksanaan yang anti diskriminasi serta restrukturisasi penguasaan sumber-sumber ekonomi sebagai rangkaian tak terpisahkan, persoalan pembauran dapat diatasi secara mendasar.
Momentum tersebut sesungguhnya ada dalam Pilkada DKI Jakarta 2012. Ketika zaman kolonial, pedagang 5 feet masih diberi tempat berdagang meski kecil. Ironisnya, di era kemerdekaan, terutama sejak Orde Baru, para pedagang kecil itu ditolak negara melalui berbagai penggusuran oleh aparat tramtib dan terdesak sektor modern dengan semakin menjamur mal dan mini market. Sebagai Walikota Solo, Jokowi sudah menunjukkan keberpihakannya kepada pedagang 5 feet dengan merelokasinya ke tempat yang layak. Kredibilitas dan kapasitasnya memberi harapan banyak orang. Dari rekam jejaknya, Ahok juga bukan tipe pemimpin korup dan menindas yang menjadi ”penghisap darah orang Jawa”. Kini ia berduet bersama Jokowi yang orang Jawa.
Pada putaran pertama, mayoritas warga ibukota sudah membuktikan kematangannya untuk memilih pemimpin politik tanpa dibebani urusan primordialisme. Jika memenangkan Pilkada DKI Jakarta, Jokowi-Ahok mengemban tugas sejarah untuk membawa perubahan masa depan Indonesia melalui kepemimpinannya di Jakarta sebagai barometer nasional. Mereka memiliki potensi menjadi ikon pembalikan arus sejarah yang dihadirkan sejak zaman VOC untuk membangun masyarakat Indonesia yang bhinneka tanpa exploitation de l’homme par l’homme.

Komentar
Posting Komentar